Siapa yang tidak kenal dengan Dangdut Koplo? Genre musik yang satu ini kini merajai berbagai platform musik, mulai dari YouTube hingga Spotify. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah lahirnya irama yang membuat pendengarnya ingin bergoyang ini?

Berbeda dengan Dangdut Klasik era Rhoma Irama yang mendayu, Koplo menawarkan tempo yang lebih cepat dan hentakan kendang yang agresif. Mari kita telusuri jejak sejarahnya.

Lahir di Pesisir Jawa Timur

Dangdut Koplo diperkirakan muncul pada awal tahun 2000-an di wilayah pesisir Jawa Timur, khususnya di kawasan Surabaya, Gresik, dan sekitarnya. Saat itu, masyarakat mulai jenuh dengan dangdut melayu yang dianggap terlalu "serius".

Para musisi lokal kemudian bereksperimen dengan memadukan unsur musik tradisional seperti Kendang Kempul (Banyuwangi) dan kesenian Jaranan atau Reog. Hasilnya adalah ritme baru yang lebih upbeat, energik, dan merakyat.

Kenapa Disebut "Koplo"?

Istilah "Koplo" sendiri sebenarnya berasal dari bahasa slang masyarakat Jawa Timur yang merujuk pada pil koplo (obat-obatan terlarang yang memberikan efek halusinasi/terbang). Namun dalam konteks musik, istilah ini diadopsi untuk menggambarkan sensasi musiknya yang "memabukkan" dan memiliki tempo cepat, membuat siapa saja yang mendengarnya seolah kehilangan kendali untuk terus bergoyang mengikuti irama.

Peran Vital Sang Pengendang

Dalam orkes Dangdut Klasik, kendang berfungsi sebagai penjaga tempo. Namun dalam Dangdut Koplo, Pengendang adalah Bintang Utama. Pukulan kendang koplo memiliki ciri khas "tak-tung-des" yang rumit. Variasi pukulan seperti ciblon dan senggak (sorakan penonton/pemain) menjadi nyawa dari genre ini. Inilah alasan mengapa aplikasi simulator kendang seperti Kendang Real atau DSX Kendang begitu diminati, karena banyak orang ingin meniru skill dewa para pengendang profesional seperti Cak Met atau Malik.

Era Modern dan Digital

Jika dulu Koplo dianggap musik pinggiran, kini Koplo sudah naik kelas. Berkat platform digital, lagu-lagu pop Jawa yang dibawakan dengan aransemen Koplo (seperti karya Denny Caknan, Ndarboy Genk, atau Happy Asmara) berhasil menembus pasar nasional bahkan internasional.

Kesimpulan

Dangdut Koplo adalah bukti kreativitas musisi lokal yang mampu mengolah tradisi menjadi tren modern. Sebagai penikmat musik atau pemain kendang virtual, memahami sejarah ini akan membuat kita semakin menghargai setiap ketukan yang kita mainkan.

Terus lestarikan musik Indonesia dengan caramu sendiri, baik itu di panggung nyata maupun lewat layar HP!